Prospek Penggunaan Teknologi Bersih untuk Pembangkit Listrik dengan Bahan Bakar Batubara di Indonesia


Ketersediaan sumber energi dan adanya teknologi yang dapat mengubah sumber energi menjadi bentuk yang bermanfaat bagi masyarakat, merupakan salah satu faktor pemacu pertumbuhan perekonomian dunia. Hal ini telah tercatat dalam sejarah revolusi industri yang dimulai dari penemuan mesin uap. Mesin uap merupakan salah satu bentuk teknologi konversi energi. Setelah itu penemuan dan pemanfaatan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas terus meningkat jumlahnya. Tetapi pertumbuhan perekonomian ini juga membawa dampak yang negatif bagi sumber lingkungan hidup seperti air, udara, dan tanah. Dampak negatif tersebut dapat berupa pencemaran sebagai akibat dari emisi polutan dan produk sampingan yang berupa limbah dari aktivitas penggunaan teknologi tersebut. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia akan mengakibatkan semakin meningkatkan jumlah emisi dan limbah. Oleh karena itu masyarakat internasional menaruh perhatian terhadap jumlah emisi dan limbah yang dapat ditoleransi oleh sumber lingkungan hidup.
Apabila toleransi tersebut tidak dilampaui, maka sumber lingkungan hidup masih akan mampu untuk memperbarui diri. Hubungan yang erat antara penggunaan teknologi dan kerusakan lingkungan telah menyadarkan masyarakat untuk melakukan modifikasi dan inovasi dari teknologi yang ada saat ini. Dalam hubungannya dengan penggunaan energi, terus dilakukan inovasi pada teknologi yang memproduksi, mengkonversi, menyalurkan, dan menggunakan energi sehingga diperoleh teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Teknologi inovasi tersebut di antaranya adalah : reaktor fusi nuklir, gasifikasi batubara, superkonduktivitas, dan lampu hemat energi. Teknologi ini sebagian masih dalam tahap riset dan sebagian sudah sampai pada tahap komersial.

(Sumber : http://www.pelangi.or.id/news.php yang diakses pada hari Minggu, 04 Desember)

Emisi Bahan Bakar Batubara
Pada sub bab kali ini, penyusun akan memaparkan tentang emisi yang ditimbulkan akibat adanya Pembangkit Listrik dengan Bahan Bakar Batubara di Indonesia dimana batubara ini digunakan sebagai bahan baku/bahan bakar dari PLTU. Karena pembangkit tenaga listrik ini menggunakan bahan bakar batubara tentu saja sisa hasil pembakarannya akan berdampak terhadap lingkungan hidup. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP 13/MENLH/3/1995 tentang standar emisi untuk pembangkit listrik.

Parameter
Batas Maksimum (mg/m3)
Berlaku 1995
Berlaku 2000
Total Partikel
300
150
Sulfur Dioxida (SO2)
1500
750
Nitrogen Oksida (NO­2)
1700
850
Opasitas
40%
20%
Tabel 1. Standar Emisi untuk Pembangkit Listrik

Parameter dalam standar emisi tersebut, seperti : partikel, SO2, dan NOx adalah bahan polutan yang berhubungan langsung dengan kesehatan manusia. Disamping itu, masyarakat internasional juga menaruh perhatian terhadap isu lingkungan global seperti terjadinya pemanasan global. Emisi CO2 merupakan parameter terbesar yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global. Emisi CO2 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Meskipun Indonesia belum mempunyai kewajiban untuk mengurangi emisi ini, namun sebagai anggota masyarakat global, Indonesia turut serta berinisiatif melakukan studi dan membuat strategi untuk mengurangi emisi CO2. Penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel, SO2, NOx, dan CO2. Saat ini bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil, salah satunya adalah batubara. Penggunan batubara untuk bahan bakar pembangkit listrik diperkirakan akan terus meningkat. Meskipun kandungan sulfur batubara Indonesia relatif kecil tetapi penggunaan dalam jumlah besar akan dapat meningkatkan emisi SO2 sehingga dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan hidup. Pengaruh partikel emisi terhadap kesehatan dan lingkungan seperti pada Tabel 2. Oleh karena ini perlu adanya kajian tentang penggunaan teknologi bersih untuk pembangkit listrik batubara yang mempunyai prospek untuk diterapkan di Indonesia di masa mendatang.

Emisi
Pengaruh terhadap Kesehatan
Pengaruh terhadap lingkungan
SO2
-          Gangguan terhadap saluran pernafasan.
-          Radang paru-paru menabun.
-          Hujan asam yang dapat merusak lingkungan danau, sungai dan hutan.
-          Mengganggu jarak pandang.
NOx
-          sakit pada saluran pernapasan.

-          Hujan asam
-          Ozon menipis yang mengakibatkan kerusakan hutan.

Partikel/
Debu
-          Iritasi pada mata dan tenggorokan.
-          Bronkitis dan kerusakan saluran pernapasan.
-          Mengganggu jarakpandang

CO2
-          Tidak berpengaruh secara langsung
-          Pemanasan global
-          Merusak ekosistem
Tabel 2. Pengaruh Partikel Emisi Terhadap Kesehatan dan Lingkungan

(Sumber : http://www.walhi.or.id yang diakses pada hari Minggu, 04 Desember 2005).










terima pembuatan jingle perusahaan / usaha anda "murah bergaransi" hubungi 081915715383

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More